Renungan Tahun Baru | Harapan Baru

Renungan tahun baru, harapan baru

Tinggal beberapa jam lagi kita akan memasuki tahun yang baru. Sebuah renungan tahun baru dan intropeksi diri diperlukan untuk mengingat kejadian2 yang sudah kita lewati selama 1 tahun lalu. Renungan akan keberhasilan, renungan akan kegagalan, renungan akan cinta yang takkan tergerus oleh jaman hingga per-sahabat-an yang penuh makna. Tahun baru menawarkan sejumlah harapan yang akan dicapai, sejumlah harapan untuk menebus kegagalan tahun lalu, harapan untuk menjadi lebih baik. Setiap individu melewatkan malam tahun baru dengan cara yang berbeda-beda, dengan tema renungan tahun baru yang berbeda pula, dengan cara penghitungan hidup yang takkan pernah sama. Namun secara garis besar ada 4 macam cara renungan lewat hitungan tahun yang seringkali dipakai oleh umat manusia dibumi ini

1. Cara penghitungan tambah

Cara ini adalah cara penghitungan kebanyakan orang dan masyarakat dunia. Pertambahan tahun dianggap sebagai sekedar pertambahan usia, pertambahan tugas kerja, pertambahan kenikmatan hidup dll. Setiap sobekan kalender ditandai dengan suatu kegembiraan yang tiada tara hingga terkadang lupa bahwa akan ada hari dimana ini semua akan berakhir, hari dimana ini semua akan menunjukkan kesia-siaannya. Manusia hanya menjaring angin, hanyalah mampir untuk minum, hanyalah sebuah bunga yang hari ini berkembang indah dan keesokan harinya layu dan dilupakan orang. Inilah metode cara tambah.

2. Cara penghitungan kurang

Bertambahnya suatu tahun sebenarnya adalah pengurangan dari tahun itu sendiri. Bertambahnya suatu usia hakekatnya adalah berkurangnya usia. Inilah yang disebut cara penghitungan kurang. Semua ada batasnya, pertandingan ini ada garis finisnya, perlayaran ini ada dermaganya. Semua sudah ditentukan, semuanya sudah ditetapkan. Ketika kita meniup terompet tahun baru atau meniup lilin ulang tahun, itu menandakan bahwa bunyi dan nyala api kita semakin berkurang dan semakin berkurang. Orang bijak seringkali menggunakan metode ini agar hidupnya lebih mengingat akan adanya garis akhir yang terbentang.

3. Cara penghitungan kali

Ketika bunda theressa meninggal dunia, harus ada 4 orang staff yang menggantikan semua tugas yang ditinggalkan oleh beliau. 1 orang yang mempunyai integritas tinggi terhadap kaum papah itu tidak cukup digantikan oleh 1 orang karena begitu banyak hal yang sudah beliau lakukan selama beliau hidup. Bunda theressa berhasil melipatgandakan kemampuannya selama hidup menjadi sedemikian banyak hingga harus ada 4 orang yang menggantikan semua tugas dan tanggung jawab yang beliau tinggal. Orang2 yang berpengaruh sepanjang abad inipun melakukan hal yang sama. Mereka adalah orang2 yang sukses membuat cara penghitungan kali dalam hidupnya.

4. Cara penghitungan bagi

Seberapa banyak kita telah membagikan hidup kita selama kita menghabiskan 365 hari lalu untuk orang lain ? Seberapa banyak orang lain merasakan bahwa kita hadir disaat mereka memerlukan ? Seberapa peka hati kita ketika melihat ada orang lain yang tersungkur ditepi jalan karena habis dirampok dan dianiaya ? Berbagi hidup untuk orang lain adalah kebahagiaan sejati yang bisa kita dapatkan. Kalau boleh jujur, kita merasa bahagia justru disaat kita memberi sesuatu, bukan saat menerima sesuatu. Kita adalah makhluk sosial, dibentuk dan di modifikasi secara khusus oleh Sang Empunya hidup untuk berbuat sesuatu bagi orang lain. Namun ironisnya cara penghitungan bagi adalah cara penghitungan tahun dan hidup yang paling banyak dihindari oleh manusia pada jaman ini. Jaman yang serba individualis, jaman yang serba semau gue, jaman yang segera menghapus air mata untuk orang yang menderita. Jaman yang telah gagal melakukan cara perhitungan bagi dalam hidupnya

Dari keempat cara penghitungan tahun diatas. Yang manakah yang seringkali kita pakai ? Renungan tahun baru adalah moment intropeksi diri yang paling mujarab untuk memberikan kita motivasi agar menjadi lebih baik se-tahun kedepan. Renungan dan harapan baru ditahun yang baru ini semoga dapat menjadi sedikit bekal buat kita menyongsong tahun yang penuh tantangan dan keberhasilan.


Category Article

4 Responses to “ACHILLES-Blog”